oleh

Ikuti Rapimnas Via Zoom,Syufrayogi Syaiful Sampaikan Tujuh Permasalahan Nelayan Tanjabbarat.

Share

Tanjab Barat-, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Kabupaten Tanjung Jabung Barat Syufrayogi Syaiful ikuti rapat pimpinan nasional (Rapimnas) yang diselenggarakan oleh DPP. HNSI pusat, melalui zoom. Rabu (01/07/2020)

Dalam Rapimnas DPP HSNI ini, hadir Menteri Perikanan dan Kelautan Republik Indonesia Eddy Prabowo, Ketua DPP HNSI Yusuf Sholihin, Ketua DPD Provinsi Jambi Wiwid Suwara serta ketua HNSI disetiap wilayah kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Diberikan Waktu berdurasi lima menit untuk menyampaikan kendala dan permasalahan di setiap kabupaten/kota seluruh Indonesia. Ketua DPD HNSI Provinsi Jambi Wiwid Suwara menyampaikan kendala yang dihadapi nelayan provinsi Jambi saat ini.

“1. Banyak nelayan Kab. Tanjung Jabung Barat yang berminat untuk melakukan usaha penangkapan ikan di WPP 711 laut natuna dan Laut China Selatan namun terkendala minimnya sarana dan prasarana Kapal penangkapan ikan diatas 30 GT, alat penangkapan ikan yang sesuai dengan wilayah Fishing Groundnya (Laut Natuna / Laut China Selatan)

2. Minimnya Keterampilan dan SDM Nelayan dalam hal mengoperasionalkan kapal > 30 GT ( nelayan rata – rata belum memiliki sertifikat keahlian baik berupa ANKAPIN, BST serta keahlian dalam hal penggunaan Teknologi Penangkapan Ikan) sehingga dirasa perlu untuk memberikan pelatihan peningkatan keterampilan bagi nelayan.

3. Kabupaten Tanjung Jabung Barat memiliki garis pantai sepanjang ± 30, 90 KM dengan potensi laut Kab Tanjung Jabung Barat ± 28.000 Ton/Tahun, salah satu komoditi hasil tangkapan yang menjadi primadona di Kab. Tanjung Jabung Barat saat ini adalah jenis Udang Ronggeng atau Udang Belalang atau biasa disebut dengan bahasa daerah Udang Ketak dengan jumlah total hasil tangkapan sepanjang Tahun 2018 lalu mencapai 745.1 Ton / Tahun dan memiliki pangsa pasar ekspor menuju Malaysia, Singapura, Hongkong dll. Potensi yang cukup besar itu saat ini masih menghadapi kendala dalam hal pemasarannya saat ini, nelayan dan penampung Udang Ketak Kab. Tanjung Jabung Barat saat ini belum bisa menembus pasar ekspor secara langsung karena minimnya Jaringan / relasi pasar di luar, hal ini menyebabkan proses pemasaran komoditi udang ketak ini harus melalui pihak penampung / pemasar lain yang ada di Jakarta terlebih dahulu sehingga harganya menjadi turun bila dibandingkan dengan jika nelayan atau pemasar lokal dapat mengirim langsung, selain itu daerahpun tidak mendapatkan PAD atau retribusi pajak yang optimal karena proses pengiriman bukan jenis ekspor langsung melainkan pengiriman komoditi domestik saja.

4. Dengan Primadonanya hasil penangkapan Udang Ketak di Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang memiliki nilai jual mahal per ekor/ sizenya membuat banyak nelayan kecil / tradisional memburu Udang ini sehingga di khawatirkan akan terjadi kelangkaan bahkan Over fishing terhadap komoditi Udang Ketak ini, oleh karena itu dirasa perlu untuk dibuat regulasi yang mengatur apakah itu berdasarkan waktu tangkapan, kondisi Udang serta ukuran udang ketak yang boleh ditangkap, sama seperti Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan No. 56/PERMEN-KP/2016 Tentang Larangan Penangkapan dan atau Pengeluaran Lobster, Kepiting dan Rajungan dari wilayah Republik Indonesia.

5. Udang ketak merupakan salah satu komoditi sumberdaya ikan yang akan langka bila dilakukan penangkapan secara berlebihan oleh sebab itu perlu adanya penerapan Teknologi Budidaya udang ketak, hal ini perlu dilakukan untuk menjamin ketersediaan Udang Ketak dimasa yang akan datang.

6. Sebagian besar pemenuhan kebutuhan konsummsi ikan, udang dll di Kabupaten Tanjung Jabung Barat saat ini diperoleh dari nelayan yang menggunakan alat penangkap ikan jenis Trawl Mini, sesuai dengan Peratuaran Menteri Kelautan dan Perikanan No. 2 /PERMEN-KP/2015 Tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkap Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia membuat sebagian besar nelayan kami yang menggunakan alat tangkap jenis trawl mini ini ragu dan takut untuk menangkap ikan di laut karena khawatir akan terkena razia oleh aparat terkait, oleh sebab itu diperlukan solusi yang cepat dan tepat karena skala nelayan tersebut bukanlah skala usaha melainkan atas dasar pemenuhan kebutuhan sehari – hari dengan ukuran kapal yang digunakan rata – rata 3 – 5 GT.

7. Selain itu aspek perizinan juga menjadi kendala bagi nelayan / pemilik kapal kami yang menggunakan kapal > 30 GT, Proses penerbitan izin yang cukup panjang dan kriteria persyaratan yang cukup banyak dan melibatkan tidak hanya 1 instansi / pihak yang berwenang dirasa nelayan atau pemilik kapal cukup memberatkan, oleh sebab itu melihat kondisi ini perlu rasanya ada penyederhanaan regulasi dan persyaratan dalam proses penerbitan izin kapal sehingga nelayan / pemilik kapal dapat tertib secara administrasi.” Papar Ketua DPD HNSI Provinsi Jambi, Wiwid Suwara.

Menambahkan pemaparan dari Ketua DPD HNSI Provinsi Jambi, Syufrayogi Syaiful yang juga merupakan Ketua HNSI kabupaten Tanjung Jabung Barat Menyampaikan beberapa hal yang harus segera ditindaklanjuti.

” Kita Juga menambahkan poin yang sangat penting yang harus ditindaklanjuti Oleh Pihak kementerian dan DPP Minta bantuan kapal di atas 30 gt, sehingga nelayan dipesisir jambi bisa mencari ikan di daerah ZEE natuna dan sekitar nya. Kucuran dana terkait pengelolahan kawasan magruve, Prihal perumahaan nelayan.Minta ada nya revisi permen 71 terkait alat tangkap telarang. dimana kondisi laut kuta dipesisir jambi tidak berpasir dan karang, hanya lumpur, mohon dipertimbangan lg permen 71 tersebut.dilakukan kawasan pemukiman nelayan baik itu dari penerangan nya.Minta bantuan penjemuran udang papay, dan lain2. Minta dipermudah pemasaran udang nenek atau udang ketak laut dalam exspor keluar negeri terutama hongkong. Dan minta kartu nelayan kasuka cpt diterbitkan.kerna selalu terbentur dari pihank BANK, dan sampai saat ini nelayan kita menunggu berbulan – bulan” Tambah Syufrayogi Syaiful.

 

Reporter : Ipandri Arahman Hadi
Editor. : Ahmad Pudaili

Komentar

News Feed