oleh

Pilkada Bungo di Tengah Pandemi, Strategi dan Siapa yang Paling Diuntungkan

Share

Oleh : Andriyadi, M.Pd
Kandidat Doktor UIN Imam Bonjol


Pemilihan kepala daerah serentak 2020 terasa sangat berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Pembatasan yang ketat karena Pandemi Covid-19 otomatis membatasi ruang gerak kandidat calon di pemilihan kepala daerah maupun tim pemenangan. Apalagi adanya aturan PKPU tentang pembatasan rapat umum (kampanye) hanya boleh mengumpulkan 50 orang, makin membatasi ruang gerak, sementara waktu tersisa hanya tinggal dua bulan.

Penggunaan kampanye secara virtual belumlah terlalu di kenal masyarakat, apalagi untuk daerah yang jangkauan sinyal internet masih banyak terbatas. Salah satunya saya melihat Pilkada Bupati Wakil Bupati Kabupaten Bungo.

Ruang yang masih bisa di gunakan dengan luas oleh kandidat dan tim pemenangan adalah media sosial. Media publik lainnya seperti pemasangan APK juga sudah terbatas oleh aturan PKPU. Pemanfaatan ruang kampanye di media sosial tentu harus dapat di gunakan semaksimal mungkin oleh kandidat dengan sisa waktu yang singkat ini. Tim harus mampu menguasai ruang publik di media sosial dengan menyampaikan visi misi serta keunggulan kandidatnya masing-masing.

Penyampaian gagasan visi misi harus dapat di tampilkan se kreatif dan semenarik mungkin. Kampanye di media sosial tidak cukup sebatas narasi verbal, apalagi memainkan isu Sara, caci makian ataupun informasi hoax, publik menunggu dua kandidat dan tim pemenangan beradu gagasan serta visi dan misi.

Pada pilkada Bungo sendiri, pengamatan saya hal itu belum di lakukan optimal kedua kandidat, kedua kubu masih dominan menampilkan narasi-narasi verbal dan simbolisasi.

Jika kita bicara siapa di antara kandidat yang paling di untungkan Pilkada Bungo masa Pandemi, jawabannya tentu Incumbent, yakni pasangan pak Mashuri dan pak Apri. Tidak pisahnya pak Mashuri dan pak Apri di Pilkada Bungo menjadi keunggulan tersendiri dan tentu akan lebih mudah menyusun simpul-simpul pemenangan.

Berbeda dengan pasangan pak Sudirman dan pak Erick, keduanya baru menyatu di detik akhir masa pendaftaran di KPU, meski Sudirman bukanlah orang baru, beliau jelas memiliki tim panatis dan simpatisan, karena beliau adalah seorang mantan Bupati, namun beliau terbilang lamban mengambil keputusan untuk maju di pilkada Bungo. Sementara, Erick sosok baru yang masih perlu penyesuaian dengan karakter pendukung maupun karakter politik di setiap wilayah yang berbeda-beda.

Di waktu yang singkat ini, tim pak Sudirman dan pak Erick jelas punya beban lebih berat dalam mensosialisasikan jagoannya dan meyakini masyarakat. Kita tunggu apa yang akan di lakukan kedua kandidat di 60 hari tersisa. (*)

Komentar

News Feed