Kerajaan Mataram dan Sejarah Bumi Tanah Sepenggal, Bungo, Jambi

107
Rumah Tuo di Dusun (Desa) Tanah Periuk sebagai salah satu lokasi awal peradaban Tanah Sepenggal

Tanah Sepenggal merupakan salah satu marga di wilayah Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Marga Tanah Sepenggal adalah satu dari delapan marga yang ada di Kabupaten Bungo.

Tanah Sepenggal dan tujuh marga lain itulah yang merupakan penduduk asli Kabupaten Bungo. Saat ini marga Tanah Sepenggal berada di Kecamatan Tanah Sepenggal , Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, dan sebagian Kecamatan Bathin III.

Saat Kesultanan Mataram berperang dengan Belanda, keluarga kerajaan terpecah menjadi dua. Keluarga yang pro Belanda dan menentang belanda. Sri Mangkubumi adalah kelompok yang menentang belanda. Oleh karena situasi yang tidak memungkinkan, maka Sri Mangkubumi mengadakan Musyawarah.

Hasil musyawarah tersebut diputuskan mereka harus meninggalkan kerajaan Mataram menuju Sumatera. Bersama dengan pengikutnya yang setia maka Sri Mangkubumi menyiapkan perbekalan secukupnya. Dalam perjalanan tersebut rombongan terdiri dari lebih kurang 40 kepala keluarga. Tujuan perjalanan tersebut adalah Kesultanan Jambi.

Kesultanan Jambi memang sudah lama menjalin kerjasama baik dengan kerajaan di Pulau Jawa. Hal ini diceritakan pula dalam Legenda Rangkayo Hitam. Dikisahkan pula bahwa Rangkayo Hitam sempat mempersunting salah satu putri kerajaan di Tanah Jawa.

Kepala keluarga tersebut masuk kedalam Jung atau Penjalang, jenis kapal layar tradisional yang dipakai oleh kerajaan-kerajaan masa lampau. Rombongan tersebut singgah di Pelabuhan Sabak, dekat Pulau Berhala, Kesultanan Jambi, daerah Tanjung Jabung saat ini.

Setelah beristirahat, rombongan tersebut menemui Sultan Jambi di Pusat kerajaan yang telah berada di Kota Jambi. Konon Sultan Jambi mempunyai Istri dari Kesultanan Mataram.

Di Jambi rombongan Mataram bertemu dengan Debalang raja Jambi yang bertugas menyambut kedatangan rombongan tersebut. Sultan atau Raja Jambi tidak percaya begitu saja terhadap rombongan tersebut terutama istri raja Jambi yang juga keturunan Mataram.

Untuk meyakinkan, maka Sri Mangkubumi mengeluarkan gupil yang bertuliskan aksara Jawa. Sri Mangkubumi hanya memiliki 2/3 bagian gupil karena selebihnya disimpan oleh istri Sultan Jambi yang konon bernama ‘Ayunan Tunggal’.

Setelah dicocokkan kedua gupil tersebut maka barulah rombongan tersebut dipercayai sebagai rombongan keluarga Kesultanan Mataram. Adanya bukti hubungan kekeluargaan tersebut menyebabkan rombongan mataram dilayani oleh kesultanan Jambi secara khusus, dengan senang hati.

Tidak beberapa lama rombongan beristirahat di Pusat Kesultanan Jambi, akhirnya rombongan diberi kuasa untuk mengambil wilayah dari Muara Sungai Tembesi hingga ke barat daerah Kesultanan Jambi yang berbatasan dengan Kerajaan Pagaruyung, Sumatera Barat.

Rombongan tersebut diiringi oleh beberapa orang utusan Kesultanan Jambi sebagai penunjuk jalan. Perjalanan diputuskan lewat air dengan menyusuri Sungai Batanghari dan diteruskan masuk ke Sungai Batangtebo terus menyusuri hingga ke hulu sungai. Perjalanan melelahkan tersebut memakan waktu yang cukup lama.

Perjalanan panjang tersebut mengantarkan rombongan pada daerah seperti Teluk yang bentuknya berkelok seperti meringkuknya kucing yang sedang tidur. Diseberang teluk tersebut terlihat daratan yang disinari rembulan. Untuk mengingat tempat tersebut rombongan menamai daerah tersebut Pulau Sri Bulan dan Teluk Kucing Tidur

Rombongan tersebut menepi dan naik ke daratan. Di sanalah mereka memutuskan untuk menetap dan mendirikan pemukiman. Mereka membuat rumah besar yang dikenal dengan sebutan Balai Panjang yang kemudian ditetapkan menjadi nama daerah tersebut Balai Panjang (Desa Tanah Periuk hari ini). Sri Mangkubumi sendiri memutuskan tidak melanjutkan perjalanan itu dan menetap di Balai Panjang.

Baca Juga :  Sepulang Bermain Bola, Amar Tewas Nabrak Dumtruk

Setelah menetap sekian lama di Balai Panjang, di antara anggota rombongan tersebut ada pula yang memutuskan tetap melanjutkan perjalanan ke hulu sungai, mencari wilayah baru untuk ditempati.

Perjalanan tersebut diikuti oleh seseorang yang berpengaruh pula yang bernama Sri Tanwah. Sri Tanwah sendiri adalah adik perempuan dari Mangkubumi yang konon terkenal kecantikannya. Kecantikan tersebut hingga hari ini diyakini dimiliki oleh keturunan beliau yang masih bertahan di daerah Candi (Desa Candi dan Sekitarnya).

Rombongan Sri Tanwah tersebut bertemu daratan seperti tanjung yang oleh rombongan dinamai Tanjung. Sebagian anggota Rombongan tersebut memutuskan untuk naik ke daratan termasuk Sri Tanwah.

Di atas daratan Tanjung tersebut terdapat bukit yang dinamakan Penggoda atau Pesiban Tanah di sebelah barat bukit tersebut terdapat bukit pula yang dinamakan Bukit Setunggang atau Bukit Sangka Puyuh.

Tidak semua anggota rombongan ikut menetap pula bersama Sri Tanwah. Rombongan lainnya memutuskan meneruskan perjalan masuk ke anak sungai Batangtebo bagian kiri yang dikenal dengan nama Sungai Batang Uleh.

Dalam perjalanan tersebut rombongan melihat adanya sepah sirih dan asap menandakan adanya aktivitas penduduk di hulu sungai. Perjalanan diputuskan menuju arah asap yang terlihat tadi.

Semak belukar tidak menjadi penghalang bagi rombongan. Semua ditebas oleh anggota rombongan. Namun saat perjalanan sudah hampir sampai, ternyata pedang salah satu anggota rombongan patah. Akhirnya diputuskan untuk menepi dan berhenti.

Disaat rombongan sedang beristirahat, terlihat ada sesosok wajah manusia yang terbang melayang ke Arah Teluk Kecimbung (Desa Teluk Kecimbung sekarang). Karena penasaran, semua anggota rombongan mengejar sosok tersebut dan terlihat bahwa yang mereka lihat bukanlah manusia melainkan ‘Mahluk Halus/ Jin’.

Rasa capek dan lelah yang sangat menjadikan rombongan tidak sanggup lagi meneruskan perjalanan. Anggo Karti salah satu rombongan Mataram memilih menetap di daerah tersebut. Sedangkan beberapa orang anggota rombongan lebih memilih kembali pulang ke Balai Panjang. Anggo Karti dan rombongan yang memilih menetap tersebut menamakan daerah tersebut Rambah (Desa Rambah sekarang).

Setelah sekian lama, rombongan Sri Mangkubumi menetap di Balai Panjang, maka rombongan tersebut banyak yang membuka daerah-daerah baru yang kemudian menjadi Desa- Desa pada hari ini.

Tersebut pula kisah tentang seorang yang bernama Berambai Lidah yang memutuskan untuk membangun pemukiman di daerah kebun kapas Sri Mangkubumi yang terletak di Desa Lubuk Landai hari ini. Orang-orang Tanah Periuk menamakan dia juga “Orang Tuo Tengka”. Orang ini diyakini sebagai pendiri desa Lubuk Landai saat ini

Lubuk Landai sendiri berasal dari Kata Lebak Landai. Lebak merupakan kawasan rawa yang genangan airnya dipengaruhi air hujan atau luapan sungai. Landai konon mengacu pada Landai (Sarung) Keris yang terjatuh di Lebak tersebut.

Namun hal yang berbeda dituturkan oleh tetua Lubuk Landai yang meyakini bahwa leluhur mereka adalah Pakubuwono, Keponakan Sri Mangkubumi yang menyusul pamannya dalam rombongan kedua dari Mataram.

Sumber : Sindonews /
wikiedia
kabarmelayu.blogspot

Facebook Comments