oleh

Politik Memutuskan Tali Keluarga Sesama Caleg

Share

Oleh : Ahmad Pudaili


Pemilu 2019 tak jauh berbeda dari pemilu 2014 lalu, namun Pemilu 2019 ini boleh dibilang unik dan paling heboh dari pemilu sebelumnya. Karna, politik mengatasnamakan agama di tahun 2019 ini sangat berlebihan, bahkan saling klaim bahwa idiologi mereka yang paling benar.

Lupakan politik agamanya, penulis mencoba menulis sisi politik Calon Legislatif (Caleg) yang satu keluarga. Karna di pemilu 2019 ini untuk Provinsi Jambi khusunya di Kabupaten Bungo penulis melihat begitu banyak Caleg yang berstatus satu keluarga ikut meriahkan pesta demokrasi lima tahunan ini.

Bahkan, Caleg sesama keluarga saling klaim bahwa dirinya yang paling berhak dipilih dari pada Caleg lainnya yang merupakan keluarganya sendiri.

Disini penulis melihat, adanya klaim mengklaim ini tentu akan berdampak buruk bahkan memutuskan tali kekeluargaan Caleg itu sendiri. Disini sebenarnya masyarakat sudah bisa menilai karakter para Caleg.

Kenapa tidak, dalam satu keluarga saja ada yang sampai lima caleg yang ikut bertarung untuk mendapatkan kursi yang dianggap akan membela hak rakyat, namun hal itu bukan sedikit lagi khususnya di Provinsi Jambi sudah mulai berkurangnya kepercayaan masyarakat akan wakil rakyat.

Beberapa waktu lalu penulis sempat mewawancarai salah satu Caleg :

– Penulis : Apa alasan abang mencalonkan Legislatif?
– Caleg : Tak banyak alasan, karna sudah lelah sama pekerjaan yang sekarang,
– Penulis : Wah, berarti abang sudah yakin menang ya.?
– Caleg : Yakin,
– Penulis : Dimana yakin menangnya bang, padahal keluarga abang ada tiga yang Nyaleg?
– Caleg : Kita Lihat saja, karna dikeluarga kami saya yang paling didorong,
– Penulis : Apakah tidak memecahkan suara abang nantinya.?
– Caleg : Tidak, keyakinan saya sudah bulat menang,
– Penulis : Kalau dilihat, bagaimana abang meyakinkan orang lain? Sedangkan suara dalam keluarga abang saja sudah pecah, Kan Abang satu Dapil sama Caleg yang juga keluarga abang.?
– Caleg : hhhhhhhhmmmmm “Caleg terdiam bingung mau jawab apa”

Akhirnya penulis berhenti mewancarai Caleg tersebut.

Disini, penulis sedikit berpesan kepada seluruh masyarakat Jambi, agar benar-benar memilih wakil yang berkualitas dan benar-benar pro rakyat. Karna tak menutupkemungkinan kalau salah pilih akan membawa Jambi lebih buruk kedepannya.

Dan tidak sedikit kejadian sebelum – belumnya Caleg yang salah pilih akan lupa pada masyarakat yang sudah memilihnya. Bak pepatah Jambi, lupa akan dimana ia dilahirkan.

(Selamat Berpesta Demokrasi)

Komentar

News Feed