Pesona HBA Vs Regenerasi

480

Oleh : Muhlisin


Pesona Hasan Basri Agus (HBA) sepertinya tak kunjung pudar. Usia yang sudah 66 tahun tak membuat HBA lantas dilupakan dan dicoret dari daftar tokoh paling diperhitungkan di Jambi.

Terlebih menjelang pemilukada Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jambi yang akan digelar 2020 nanti. Nyaris dalam setiap pembicaraan tentang pilgub, nama HBA masih saja jadi sosok sentral.

HBA bahkan mulai disanding-sandingkan. Terlebih netizen (yang hampir selalu benar dengan segala komentarnya), sudah mencoba ‘mencomblangkan’ HBA dengan beberapa tokoh ternama.

Walau kalah cukup telak oleh Zumi Zola-Fachrori Umar pada pilgub lalu, sepertinya tak terlalu melunturkan citra HBA sebagai local strong man. Suami Yusniana ini masih saja diperhitungkan sebagai calon pemain utama pilgub mendatang.

Terlebih lagi terkait pemilu legislatif 17 April lalu. Semakin melegitimasi ketokohan pria yang lahir di Desa Sungai Abang, Sarolangun, 30 Agustus 1953.

Suara sebanyak 200.291 berhasil dikantongi caleg Partai Golkar ini. Memperoleh suara terbanyak di Provinsi Jambi, mantan Bupati Sarolangun pun lenggang kangkung ke DPR RI.

Kuatnya nama HBA saat ini tak hanya karena lolos ke Senayan dengan angka paling gemuk. Ada beberapa indikator lain yang membuat HBA begitu diperhitungkan.

Di antaranya adalah dukungan kepala daerah yang tengah berkuasa. Salah satunya adalah Bupati Merangin, Al Haris.

Kedekatan HBA dan Haris tak hanya melulu soal politik karena sama-sama Golkar. Nenek dari HBA berasal dari Desa Sekancing Kecamatan Tiang Pumpung. HBA dan Haris masih memiliki pertalian darah dan Bupati Merangin dua periode ini memang dibesarkan oleh HBA.

Merangin sendiri adalah salah satu kabupaten dengan DPT terbesar di Provinsi Jambi. Pemilu lalu, Merangin memiliki DPT berjumlah 263.684 orang.

Selain Merangin, HBA juga sangat bisa mengandalkan Sarolangun. Belum lagi potensi dukungan dari daerah lain yang ‘menyesal’ karena meninggalkan HBA pada pilgub sebelumnya.

Tetapi, HBA bukan tanpa penghalang. Beberapa indikator patut dihitung sebagai penyebab tidak majunya atau kalahnya HBA di pilgub nanti.

Pertama, adalah faktor internal HBA sendiri. Dengan kondisi baru saja lolos ke DPR RI, akankah HBA melepaskan kesempatan membangun Jambi dari pusat? Hanya HBA yang tahu jawabannya.

Kemungkinan kedua adalah faktor Al Haris. Nyaris tidak mungkin HBA dan Al Haris sama-sama maju di pilgub Jambi. Selain hubungan ‘bapak-anak’ HBA-Haris juga berasal dari basis suara yang sama persis.

Hal lain yang patut dihitung dari HBA adalah keinginan regenarasi. Dari banyak pemilukada di Indonesia, calon-calon kepala daerah berusia relatif muda cukup banyak yang keluar sebagai pemenang.

Jika indikator regenerasi patut diperhitungkan, beberapa nama patut diapungkan. Sederetan kepala daerah yang tengah menjabat mungkin cukup siap menjadi pemain pilgub Jambi.

Al Haris sendiri baru berusia 46 tahun (kelahiran 23 November 1973). Walikota Jambi Syarif Fasya baru 51 tahun (kelahiran 12 Mei 1968). Lalu beberapa nama populer lainnya seperti H Mashuri (Bupati Bungo), Adi Rozal (Bupati Kerinci), M Syukur (DPD RI tiga periode).

Kondisi ini membuat peta pilgub Jambi semakin menarik dinanti. Karena masyarakat Jambi juga mungkin masih ‘kapok’ dengan pesona asal muda (tampan) dengan berkasusnya Zumi Zola.

Penulis : Ketua GP Ansor Merangin

Facebook Comments