oleh

PDAM Tirta Merangin, Fokuslah

Share

Oleh : Herman S.


“Aduh, air PDAM di rumah kami keruh. Kadang hidup kadang idak. Apolagi kalau mati lampu. Dipastikan air jugo mati seharian,”

Keluhan senada ini bukan hal baru bagi warga Merangin. Terkhususnya warga yang tinggal di sekitar Kota Bangko yang menggantungkan suplay air bersihnya dari pipa PDAM Tirta Merangin.

Membaca dari beberapa referensi, PDAM Tirta Merangin haruslah fokus pada mewujudkan pelayanan prima beruata ‘Tiga TAS’. Yakni pelayanan yang tepat dari sisi kwaliTAS, tepat kwantiTAS, dan tepat kontinuiTAS.

Tepat kwaliTAS, artinya kwalitas air terjaga dengan baik. Tidak ada lagi air keruh masuk ke bak mandi pelanggan. Tidak boleh lagi air bau mengalir ke pipa.

Tepat kwantiTAS berkaitan dengan jumlah suplay air. Berapa pun yang dibutuhkan pelanggan, airnya ada. Tidak boleh kurang. Ini berkaitan pula dengan tepat kontinuiTAS. Airnya ada, kapan pun keran dibuka, air langsung mengucur sempurna.

Lalu, sudah terwujudkah ‘Tiga TAS’ itu? Akh, sudah pasti belum. Keluhan mengenai pelanggan PDAM Tirta Merangin masih jadi perbincangan hangat di warung kopi.

Pelanggan tak hanya berharap ‘Tiga TAS’ semata. Goals yang juga diinginkan pelanggan, PDAM, dan Pemkab Merangin sebagai pemilik modal, tentu perusahaan ini menjadi sehat.

Sehat dalam arti tidak hanya mendapatkan predikat WTP dari BPK. Tapi bisa meraih profit, mensejahterakan karyawan, dan menyumbang PAD bagi Pemkab Merangin.

PP 54 tahun 2017 cukup menjadi rujukan. PP ini menjabarkan secara detil dan lugas mengenai BUMD seperti PDAM Tirta Merangin.

Memang, PP 54 hanyalah ‘alat’. Diperlukan berbagai upaya, tentunya agar alat itu berdayaguna, dan tujuan tercapai.

PP 54 tahun 2017 juga menegaskan pentingnya pemangku semua kepentingan memahami hal medasar tentang pengelolaan suatu badan usaha seperti PDAM. HUMD yang baik, tatakelola yang kalau dijabarkan harus transparan, akuntable, bertanggungjawab, independen, dan adil.

Sebagai pelanggan, kami pun mendengar desas desus dari ‘semilir angin malam’ dari cerita sepintas lalu dari ‘ombak kecil Sungai Batang Merangin’. Alkisah, PDAM Tirta Merangin tengah mengajukan Ranperda terkait rencana perubahan bentuk badan hukim PDAM Tirta Merangin menjadi Perusahaan Umum Daerah atau Perumda.

Jika lah benar cerita angin malam dan ombak Sungai Batang Merangin itu. Akan ada berbagai konsekwensi dari perubahan bentuk badan hukumnya tersebut.

Sesuai PP 54 tajun 2017, setidaknya adalah lima hal berikut: (1) Masa jabatan direksi/direktur berubah dari 4 tahun menjadi 5 tahun, (2) Periodesasi direksi/direktur semula hanya dua periode, dapat menjadi 3 periode, (3) Masa jabatan Dewan Pengawas (Dewas) berubah menjadi 4 tahun, dari semula hanya 3 tahun, (4) Jumlah dewas harus sama dengan jumlah direksi/direktur, dan (5) Perubahan bentuk hukum dari perusahaan menjari perumda atau perseroda

Kami dengar pula, wakil kami yang terhormat di gedung rakyat, sudah pelesir ke beberapa tempat. Tentu dalam rangka pengabdian rakyat berjudul kunjungan kerja atau studi banding lah. Karena berkaitan dengan PDAM, tentu pelesir tersebut bersama petinggi PDAM pula.

Dari berbagai sumber, tercatat belum banyak PDAM di Indonesia yang berstatus Perumda. Kebanyakan masih PDAM. Bahkan untuk PDAM dengan jumlah pelanggan lebih dari 30.000 sekalipun.

PDAM Kota Jambi dan Tirta Sakti di Kerinci sekalipun, belum Perumda. Maka, alangkah baiknya agar menunda dilu syahwat naik kelasnya.

Fokuslah pada peningkatan ‘Tiga TAS’. Agar pelayanan prima terwujud, PDAM Tirta Merangin bisa untung dab karyawan sejahtera, dan agar bisa menyumbang PDAM ke kas daerah Pemkab Merangin.

PDAM Tirta Merangin, Fokuslah!

Pelanggan PDAM, tinggal di Bangko

Komentar

News Feed